Perhatikan satu hal ini sebelum menjalin pertemanan jangka panjang

https://unsplash.com/photos/tvc5imO5pXk

Teman saya yang pernah ngalamin fase paling menyakitkan dalam bisnisnya pernah ngasih nasihat. Kalau mau nyari temen buat mulai bisnis gali dulu latar belakang keluarga dan pengalaman masa kecilnya. Ini penting banget untuk mengetahui seperti apa attitude-nya.

Karena kalau baru tau ternyata attitude-nya jelek ketika bisnis sudah jalan, ongkosnya mahal. Banyak rencana bisnis bubar bukan karena gak menghasilkan atau kurang modal, tapi karena sikap (attitude).

Kebetulan akhir-akhir ini saya juga ngalamin hal yang gak enak soal attitude. Tapi bukan fase paling menyakitkan, sih. Mungkin hanya sekadar menyebalkan. Tapi saya belajar banyak tentang apa itu sikap dan karakter.

Sikap vs Karakter

Sikap (attitude) posisinya lebih dalam dibandingin sama karakter. Kalau analoginya pohon, sikap posisinya ada di akar. Sementara karakter adalah batang, dahan, ranting dan daunnya. Sementara bentuk akar, bentuk dahan, ranting dan daun adalah sifat (traits). Tapi sifat ini dibahas lain kali saja.

Karena sikap itu letaknya ada dibalik karakter, kamu perlu waktu dan cara-cara tertentu untuk mengenalinya. Kalau kata teman saya tadi dengan cara menggali latar belakang keluarga dan pengalaman masa kecilnya. Karena pengalaman masa lalu akan membentuk nilai dan cara pandang seseorang.

Beda dengan karakter, karena letaknya dipermukaan kamu bisa mengenalinya bahkan cukup dari cerita teman atau melihat aktivitas di sosial media.

Gampangnya begini. Misal kamu lihat postingan di instagram saya lagi bagi-bagi sembako buat tukang becak. Dari situ kamu akan menilai kalau saya itu orang yang baik. Saya lelaki berkarakter baik. Tapi kamu gak tahu alasan pasti mengapa (why) saya bersikap bagi-bagi semako buat tukang becak.

Contoh lain. Kalau suatu hari kita ngopi bareng dan kamu ngungkapin ide bisnis yang menarik. Lalu kita setuju buat eksekusi bareng. Dari situ kamu bisa baca karakter, kalau saya orangnya antusias dan optimis buat garap bisnis.

Tapi apa dibalik sikap antuasime saya terhadap ide bisnis yang kamu tawarkan akan kamu ketahui saat bisnis itu dalam posisi berhasil dan gagal.

Secara sederhana saya membedakan sikap dan karakter begini:

karakter adalah ekspresi tertentu yang kamu tunjukan dalam situasi tertentu. Sementara sikap adalah alasan dibalik semua ekpresi itu.

Apakah sikap dan karakter bisa berubah?

Kalau kamu dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, rasa kasih sayang dan kejujuran. Entah itu sumbernya dari agama atau bukan, nilai-nilai itu akan membentuk sikapmu.

Misal, kamu sering memberi bantuan sembako pada tukang-tukang becak atau kaum dhuafa itu alasannya karena emang kamu punya rasa kasih sayang dan paham nilai-nilai kemanusiaan. Kamu punya karakter baik ya karena kamu emang orang baik aja.

Singkat cerita, jalan hidup kamu membawa ke kancah politik praktis. Teman-temanmu adalah para politisi. Dan kamu belajar nilai-nilai dan cara pandang baru. Misal, dengan memiliki suatu posisi politik tertentu kamu bisa berbuat kebaikan lebih besar ketimbang hanya bagi-bagi sembako.

Dan suatu hari kamu memutuskan buat nyaleg. Kamu mencalonkan diri jadi anggota dewan di senayan. Artinya kamu harus cari dukungan dong. Nah, disini karakter kamu mungkin masih sama seperti kamu sebelum jadi politisi. Bagi-bagi sembako untuk tukang becak dan rakyat biasa.

Tapi alasan bagi-bagi sembakonya itu bisa saja sudah berubah. Kalau dulu kamu bersikap karena ingin membantu orang yang gak mampu saja, sekarang ingin membantu untuk mendapat dukungan suara. Alasan kamu ngasih mereka sembako adalah agar kamu kepilih.

Kamu bisa saja menjelaskan bahwa sikap kamu itu tulus ingin membantu mereka dan memperjuangkan hak-hak mereka jika kamu sudah terpilih nanti. Tapi apakah itu benar atau tidaknya, akan dibuktikan ketika kamu sudah beneran kepilih jadi anggota dewan.

Dengan cerita begitu apakah sikap dan karakter bisa dirubah?

Sikap itu sangat mungkin berubah. Tapi karakter itu relatif sulit. Karaktermu bisa saja sama dari waktu ke waktu, tapi alasan dibalik itu semua tidak selalu sama.

Bagaimana memilih teman jangka panjang?

Bersambung…

Noted: Saya menyisihkan waktu 15 menit dalam sehari untuk menulis ini. Jadi saya butuh beberapa hari untuk membuatnya lengkap secara gagasan, kalimat maupun diksi.

--

--

--

Internet Marketer

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Aef Setiawan

Aef Setiawan

Internet Marketer

More from Medium

Healthy Recipe, Sesame Chicken Meatballs

February Presentation

Gameplay Journal #8

If You Practice Wait-When Thinking, Now is a Good Time to Switch to Peaceful Productivity.