Pentingnya habit dan buku apa saja yang harus kamu baca

Motivation is what gets you started. Habit is what keeps you going.”- Jim Ryun

Saya punya cukup motivasi untuk memulai sesuatu. Kala gagasan muncul, saya bisa memulainya tanpa perlu liat video motivasi Mario teguh dulu.

Tapi ketika sudah dikerjakan, tidak semuanya selesai. Mangkrak, kaya proyek pemerintah. Apa sebab?

Sederhana, yaitu habit. Aka kebiasaan or whatever you name it.

Kamu tau apa itu habit? Menurut saya sih, segala sesuatu yang kamu kerjakan secara refleks, tanpa perlu mikir dulu, itu namanya habit.

Terus menerus nyekrol layar smartphone meskipun gak ada notifikasi, itu habit. Satu kerjaan belum selesai, tapi sudah ngerjain yang lain itu juga habit.

Habit itu sifatnya otomatis, reflek. Karena ia tertanam di alam bawah sadar. Kalau dalam teori freudian, kebiasaan itu seperti gunung es. Gambarnya kamu pasti sudah familiar :

Bagian atas, yang kecil itu, adalah alam bawah sadar. Sisanya yang terendam air itu alam bawah sadar, tempat habit berada.

Makanya habit itu punya peran penting dalam hidup.

Bahkan bagi Piere Burdeu, filsuf Prancis, habit dijadikan salah satu faktor penentu kebersilan pendidikan seseorang. Mau baca pikiran burdeu? Bagus banget. Cek disini.

Karena habit itu penting, setahun terakhir saya serius banget benahin habit. Apalagi saya juga sedang memulai usaha rintisan, habit ini punya pengaruh ke pencapain kerja.

Ngerubah habit itu menantang. Gak bisa berubah dalam semalam. Gak percaya? Coba saja.

Tapi disini saya gak nulis teori tentang bagaimana merubah habit. Karena setiap orang punya caranya sendiri sesuai jalan hidup masing-masing.

Ya jalan hidup. Pebisnis punya basic habit yang berbeda dengan penulis. Akademisi punya habit yang berbeda dengan seniman.

Disini saya cuma ngasih tau aja buku yang bagus tentang habit yang pernah tak baca dalam enam bulan terakhir.

Tema besar buku ini adalah tentang pengembangan diri. Beberapa tentang produktivitas.

Atomic Habit, James Clear

Dari sini saya belajar merubah kebiasaan itu dimulai aja dari hal kecil.

Dulu kalau bangun jam pagi saya gak langsung pergi dari tempat tidur. Leyeh-leyeh, eh ketiduran lagi.

Sekarang kalau bangun, langsung ninggalin kasur. Langsung aktivitas kecil-kecil. Misal cuci muka, gosok gigi.

Pokoknya melakukan aktivitas kecil biar gak ngantuk dan pingin tidur lagi.

Listfull thinking, Atul Gawande.

Kalau terlalu banyak ide yang muncul, ujung-ujungnya saya gak ngerjain apa-apa. Munculnya drama dan jadi merasa sibuk.

Kalau ada ide, sekarang saya buka evernote atau aplikasi pencatat di hape. Nanti kalau senggang saya buka, tak baca mana yang sebaiknya dikerjain.

Master your time, master your life, Bryan Tracy.

Dari sini saya nemu golden time. Yaitu jam 7 sampai jam 11 pagi. Di jam ini saya fokus ngerjain sesuatu yang butuh konsentrasi penuh.

Jam 11 keatas buat ngerjain sesuatu yang butuh konsentrasi biasa. Buat ketemu orang, buat nongki-nongki atau follow up project.

High Performance Habit, Brendon Buchard

Dari Brendon Buchard saya mulai mengatur kebiasaan tidur, waktu untuk teman-teman, urusan spritual dan kesehatan.

Karena menurut penelitian Brendon, High performance habit itu soal bagaimana kita memberikan sesuatu melampaui ekspektasi dalam jangka panjang.

Bagus sih kerja keras itu, tapi gara-gara itu kamu jadi tipes dan gak punya waktu buat orang kamu sayang, pada titik tertentu, performamu bakal turun. Jamin.

Be Obsessed or be Average, Grant Cardone

Dari buku ini saya belajar, kalau sedang ngerjain sesuatu task harus obsessive. Pokoknya kerjaan ini harus tercapai dan di eksekusi sebagaimana seharusnya.

Saya ini pada dasarnya orangnya selo, gak obsesif. Dari buku ini saya belajar sisi-sisi positif dari obsesif untuk membantu nyelesain kerjaan.

Ego is your enemy, Ryan Holiday

Buku ini yang bikin saya mulai ngerjain skripsi lagi, haha. Dulu ego saya adalah, lulus dengan perusahaan yang sudah mapan.

Tapi you know lah, bikin perusahaan buat survive aja gak gampang. Apalagi buat sampai level mapan.

Ego yang tidak terkendali bikin saya buta strategi. Ujung-ujungnya bisa aja bisnis gak jadi, kuliah gak selesai.

Sampai sini dulu. Sampai jumpa lagi. Kalau ini bagus, sebar ke temen kamu. Kalau jelek, yaudah.

Internet Marketer