Di koperasi, kita tentu kenal dengan kata istilah sejahtera. Secara teoritik sebenarnya sehajtera itu konsep kehidupan yang berat. Karena bersifat menyeluruh karena meliputi kehidupan yang ideal mulai urusan finansial, intelektual, spiritual dan lain sebagainya. Intinya, baik urusan jasmani dan rohani gitulah.

Seperti biasa, ketika berteori itu mulut ngalirnya mudah sekali. Semalam suntuk, ngomongin teori kesejahteraan dan bagaiman koperasi mensejahterakan itu bisa tidak selesai-selesai. Tapi ketika berpraktik, kita akan menemukan kenyataan bahwa memperjaungkan apa yang kita yakini benar itu tidak selancar ketika cangkeman semalam suntuk.

Sedikit, saya pernah merasakan ini ketika ambil bagian dalam project Pedi help and Cleaning. Ini adalah usaha perbantuan dan cleaning service untuk mengkaryakan tukang becak di jalan kampus Unsoed. Jadi selain membeca, penarik becak dikaryakan untuk bantu bersih kamar kosan, bersih motor, halaman dan bantu-bantu apa saja. Kecuali bantuin ngerjain skripsi, eh. hha

Nah, ceritanya saya jadi pendamping. Saya bagian urus adminitrasi dan pemasaran. Jadi kalau ada order, masuknya ke nomer wasap saya. Mulanya ordernya, cuma sedikit dibulan pertama. Bahkan, cuma satu order dalam satu minggu. Tapi makin kesini, jumlah order makin naik. Pernah sempat kewalahan, pernah juga sempet kesepian karena gak ada order. Ya, namanya juga usaha, ya kan.

Pola kerja Pedi sebenanrya sederhana. Setiap ada orderan masuk melalui wasap saya. Lalu saya menghubungi kordinator lapangan Pedi, pak hadi. Lalu beliau yang mengkondisikan pekerja. Tapi jika pak hadi tidak bisa, maka biasanya saya yang langsung turun ke pangkalan. Mencari siapa yang bisa ambil order. Caranya memang sangat manual dan tidak efisien, tapi mau bagaimana lagi, karena mereka tidak bisa dan tidak punya hape.

Suatu hari saya terima order membersihkan halaman, untuk hari sabtu dan minggu. Hari itu hari jum’at sore, dan saya bergegas ke pangkalan. Ada dua orang yang siap ambil order. Saya berikan secarik kertas, yang berisi alamat lengkap pemesan. Kebetulan di weekend itu saya ada beberapa urusan dan saya bilang, saya tidak bisa ikut menemani.

Weekend sudah lewat, saya pikir semua lancar-lancar saja. Tapi di Senin pagi, konsumen nge-wasap saya. Menanyakan kok yang kerja gak datang. Haduh, gimana ini. Saya minta maaf dan menawarkan bagaimana baiknya. Tapi konsumen memutuskan meng-cancel. Sayapun langsung pergi ke pangkalan.

Disana pangkalan saya menemukan dua orang, yang kemaren sanggup ambil order. Mereka sedang menyiapkan peralatan. Seperti biasa mereka menyalami saya, kemudian bilang denagn santainya, orderan buat bersih halman jadi kan ya mas hari ini.

Lah, hari ini? Ya, allah pak. Orderannya kemarin sabtu minggu.

Haduh, perasaan sabtu-minggu itu jauh deh sama senin. Tapi kok bapaknya bisa salah hari ya.

Internet Marketer

Internet Marketer