Passion itu gak gratis

Hal yang saya syukuri hari ini adalah punya kebebasan buat ngelakuin apa yang saya menjadi passion saya. Jadi, setiap bangun tidur tidak ada semacam beban yang ngegencet kepala dan tidak memulai hari dengan keluh kesah.

Aktivitas utama saya hari ini adalah founder startup, namanya pedihelp.id. Sebuah paltform pencarian tukang denagn misi untuk membuat kehidupan tukang menjadi lebih baik. Misinya mulia sekali bukan? Haha.

Dan, bagi seorang founder pemula dan startupnya masih di masa-masa awal, hidup saya mirip seperti kecoa. Kamu harus tetap bisa tetap bertahan hidup dalam kondisi apapun, tanpa sumberdaya. Mirip kaya kecoa yang bisa hidup lama meski tanpa kepala.

Ya, karena tidak ada uang dalam startup di fase ini. Adanya masalah, dan masalah yang harus diselesaikan. Itupun, belum tentu startup berhasil. Resiko gagal bisa terjadi kapan saja. Lalu, apa yang membuat saya hari ini, dan founder startup lainnya tetap bertahan?

Passion dan harapan. Kayaknya dua itu modal awalnya. Passion punya, harapan ada, hidup kaya kecoa di fase-fase awal gak masalah. Dan, ini gak berlaku hanya buat founder. Tapi buat siapa saja, termasuk mahasiswa. Wabil khusus mahasiswa Misqueen, haha.

Nah, kali ini aku mau ngomongin passion. Tulisan saya mulai dari..

Apasih passion itu?

Segala sesuatu aktivitas atau kegiatan yang saat kamu ngerjainnya penuh gairah, sehingga kamu bisa total ngerjiannya.

Saya mendefinisikannya sesederhana itu aja, kata kuncinya ada pada gairah. Kalau sudah gairah, kamu bisa melakukannya dengan total. Bahkan, kamu sampai lupa ini sebenarnya ada uangnya apa enggak.

Jadi, meski ngerjainnya capek tapi gak kerasa. Tanpa ada drama merasa paling menderita atau ngeluh disana-sini. Orang yang mengeluh terhadap apa yang dikerjakannya, itu tandanya emang dia belum passion. Ngerjainya gak penuh gairah.

Saya punya banyak teman lama yang kalau ketemu, trus ngobrolin pekerjaan bawaannya ngeluh terus. Katanya dia gak passion, dia katanya masih cari passion yang pas buat dia. Trus, emangnya passion itu dicari ya?

Passion itu bukan dicari, tapi dikembangkan?

Nyari passion itu naif. Nyari sampai kapanpun juga enggak bakal ketemu. Karena setiap orang itu punya sesuatu yang menggairahkan buat dikerjain. Tinggal mau apa enggak nengembanginnya.

Setiap orang itu bisa punya lebih dari satu passion. Ada yang passion di bisnis, menulis, atau aktivitas sosial. Tinggal milih mau ngembangin passion mana yang mau dikembangin. Kadang gak mesti satu, bisa saja dua atau tiga.

Teman saya punya passion di bisnis, dia jago jualan di internet. Karena tekun, ya dia jadi internet marketer yang jago jualan produk. Dia bekerja penuh gairah, gak berkeluh kesah dan banyak drama ini dan itu.

Ada juga yang suka blogging, nulis-nulis begitu. Kalau dikembangin terus bisa saja jadi penulis terkenal kaya Phutut EA atau AS laksana. Kalau suka banget makan, kalau dikembangin, bisa kaya Mark Wiens, food vlogger terkenal itu.

Ada juga temen yang penuh passion kalau lagi deketin cewek. Gebetannya melintasi fakultas dan kampus. Meskipun gak ganteng dan gak kaya-kaya amat sih, tapi tetep banyak yang mau. Itulah the power of passion, ngegebetnya dengan penuh gairah, determinasi, presisi dan totalitas.

Tapi, buat ngembangin passion itu ndak gratis

Iya, tidak gratis. Kamu harus bayar. Dan kadang itu gak murah. Saya punya seorang teman pengusaha yang sudah berhasil. Ia cerita, kalau dulu mulai ngrintis sejak masih jaman kuliah. Akibatnya kuliahnya molor, hampir 7 tahun.

Lulus telat, itu adalah contoh harga yang harus dibayar. Itu tidak murah, karena tetap butuh duit dan harus tabah ngeladenin average people yang selalu rutin nanyain kenapa lulus telat, atau nganggep kamu goblok karena gak bisa lulus cepet. Lulus telat sih masih mending. Banyak kok yang kuliahnya ancur-ancuran buat bayar passionnya.

Kamu juga harus bayar pake waktu. Kalau kamu pengen jadi penulis atau blogger sekaliber Mark Manson, kamu harus menginvestasikan waktu berjam-jam untuk berlatih membuat konten tulisan yang bagus dan menarik.

Ini baru contoh hal-hal non material yang harus dibayarkan. Kadang untuk membiayai passion juga butuh keluar cuan yang gak sedikit. Pendeknya sih begini soal passion:

Passion itu bukan dicari, tapi dikembangkan. Dan itu tidak gratis, kamu harus mengorbankan banyak hal demi passionmu. Karena masalah banyak orang, bukan karena dia gak nemu passion, tapi gak mampu membayar harga untuk ngembangin passionnya. Itu aja.

--

--

Internet Marketer

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store