Nasihat Untuk Anak Saya

Saya sedang berimajinasi jika suatu hari nanti jadi seorang ayah. Punya anak lelaki yang lucu, menggemaskan, dan periang. Jika usianya sudah dewasa saya ingin mengajarkan sebuah ilmu penting.

Yaitu ilmu jualan.

Ilmu jualan adalah seni untuk bertahan hidup. Dengan bisa menjual kelak dia bisa menghasilkan cukup uang. Ia bisa makan dengan uang itu, juga bisa jajan juga jalan-jalan.

Anak saya tidak boleh mengulangi kesalahan bapaknya, telat belajar ilmu jualan. Padahal kata seorang motivator di Youtube, semakin banyak kita menjual, semakin banyak uang yang datang. Jelas ini ilmunya rangorang kaya.

Jika saya tau ilmu ini diusia tujuh belasan, bisa jadi saya sudah sakses dari dulu. Tapi ini ironi sebenarnya, karena saya dulu sekolah di SMK pejualan.

Tapi sekolah memang tidak mengajarkan bagaimana saya bisa hidup dengan keterampilan itu. Guru menekankan agar kami menjadi tenaga penjual yang baik di perusahaan.

Tapi setelah lulus, saya mendapati kenyataan pahit. Pertama tidak ada perusahaan yang mau membayar saya jadi tenaga penjual. Kedua, saya lupa semua teori penjualan yang diajarkan.

Tapi syukurlah, ada sedikit uang dan keberuntungan. Saya masuk universitas. Meskipun setelah jadi mahasiswa tetap bingung, setidaknya ada banyak mahasiswi cantik di kampus.

“Puncak kecantikan perempuan itu saat mereka jadi mahasiswi, antara semester lima dan delapan”, kata seorang teman yang berprofesi jadi fuckboy paruh waktu.

Lupakan dulu urusan perempuan. Kita kembali ke anak saya.

Kelak saya akan menasihati anak saya untuk tidak terlalu mengandalkan sekolah atau universitas. Karena sistem pendidikan kita hanya menuntut seorang anak patuh tapi tidak bisa berpikir. Intelektualnya mati, begitu juga eksistensinya.

Tapi saya tidak melarangnya sekolah dan menjadi mahasiswa tentu saja. Bagi saya sekolah itu tetap ada faedahnya. Setidaknya ia bisa menemukan jodohnya di sana. Atau ikut menyaksikan langsung bagaimana industri percetakan tenaga kerja berjalan.

Namun, saya akan menasihatinya untuk serius dan disiplin dalam belajar. Terutama filsafat agar ia bisa berpikir benar dan ilmu menjual agar ia bisa mendapat cukup uang.

Disiplin ilmu lain juga bisa dia pelajari jika mau. Misal cara menanam pohon jati, beternak kambing, memelihara cebong dan menangkap kampret. Lalu menyatukan keduanya di kabinet.

--

--

--

Internet Marketer

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Aef Setiawan

Aef Setiawan

Internet Marketer

More from Medium

It’s 10 am on Tuesday. I’m at home.

New to ShareX?

Memo: Cedar Tree Story Progress

WHEN by Daniel H. Pink