Menulis Bergaya Tutur

Menulis itu harus bagus dan disukai banyak orang. Lalu bisa terbit di media besar, misal Tempo atau Kompas. Tapi tulisan semacam itu cocoknya untuk level mahir, kita yang baru belajar tentu jangan berpikir kaya gitu. Belum waktunya. Jadi separagraf ae wis apik.

Kalau masih belajar yang penting tulisannya jadi. Gak papa jelek juga, yang penting bisa nulis. Nanti lama-lama juga bagus kalau makin sering nulis.

Apalagi kalau kita bukan penulis atau wartawan, bisa nulis bagus anggap aja bonus. Toh nulis itu yang penting pesannya tersampaikan. Bisa uapik, ya syukur. Biasa-biasa aja ya gak papa, kan emang bukan penulis profesional. Iya ora?

Siapa yang pernah sekolah pasti bisa nulis. Jangan salah, ngetik di WhatApp itu juga termasuk nulis. Nyetatus di fesbuk juga termasuk nulis. Cuma ya ben pantes-pantes tulisannya dipanjangin dikit. Lalu diedit.

Tapikan nulis harus sesuai EYD bro? Halah, emangnya mau nulis skripsi. Kalau mau nulis ilmiah, bahasanya memang harus baku. Kalau nulis biasa, ya sekarep awake dewek lah. Mau pakai bahasa Indonesia, arab, Jawa atau bahasa pemrograman komputer juga gak papa.

Sing penting yang baca paham. Pesan tersampaikan. Itu poin pokok dari menulis. Percumakan nulis sudah sudah panjang-panjang, pakai EYD pula, eh tapi pas dibaca, orang gak paham.

Nulis itu sama kaya ngomong kok. Bedanya kalau ngomong yang keluar suara, tapi kalau nulis yang keluar adalah tulisan. Bedanya mungkin cuma itu. Jadi bayangin aja kita sedang ngomong. Tapi berhubungan ini nulis, tangannya yang gerak bukan mulut.

Tapi hasilnya kok jelek? Ya diedit biar pantes-pantes. Indikatornya orang bisa ngerti apa yang kita tulis. Itu saja. Trus kalau ada yang bilang tulisan kita jelek gimana? Ya emang jelek, mau gimana lagi. Kan masih belajar.

Nah nulis seperti orang ngomong, namanya gaya bertutur. Kita bertutur apa saja, misal ngomongin gosip artis, kenaikan harga, atau apa itu yang lagi rame, soal pipis onta apa ya. Pokoknya yang tadinya biasanya diomongin sekarang ditulis. Begitu.

Trus, nulis ada teorinya gak? Ya ada dong. Tapi saran saya, baca teori itu untuk pengenalan atau pengayaan saja kalau udah biasa nulis. Untuk pemula itu jangan kebanyakan baca teori, nanti yang muncul dipikiran malah bagaimana, bagaimana dan bagaimana. Malah ora dadi barang.

Bagi pemula yang penting banyakin praktik. Banyakin nulis. mau nulis apa, habis itu nulis, nulis, dan nulis.

#pkk30haribercerita

--

--

--

Internet Marketer

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Aef Setiawan

Aef Setiawan

Internet Marketer

More from Medium

Dash vs. Asheville: Game #33 Preview

Excavating for meaning …

Abstract composition with figurative paired detail based on quasi-concentric circles and strong diagonals; figures carrying spears point to a dynamic dualism of word and word play releasing meaning.

Two Questions Summary

Occasional Knee Popping

Knees popping and cracking