Berburu & Bercocok Tanam Ilmu

Tinggal beberapa bulan lagi saya genap 25 tahun. Usia dimana fase hidup sudah berbeda. Tidak seperti lima tahun lalu. Dimasa awal kuliah.

Saya kuliah 13 semester. Lama benar untuk ukuran mahasiswa sekarang. Saya kuliah di fakultas ilmu budaya. Ambil sastra inggris.

Sejak semester pertama, saya antusias mencoba banyak hal. Berorganisasi. Membaca buku. Menghadiri diskusi. Dan mengasah beberapa keahlian.

Saya ikut gerakan koperasi dan Gabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Konon, ini himpunan besar sekaligus paling tua. Beberapa alumninya ditunjuk oleh Jokowi jadi menteri.

Saya juga gemar baca buku. Filsafat, agama, ekonomi, politik, bisnis dan humaniora adalah tema yang pernah dibaca. Saya juga membeli dan mengumpulkan buku.

Mulai semester empat saya jadi pemateri. Sesekali jadi pembicara di beragam forum. Mulai dari yang isinya belasan, puluhan dan ratusan.

Semester enam saya mengirim tulisan ke media online. Geotimes dan Qureta pernah saya kirimi. Dan terbit. Detik atau Kompas belum. Semoga suatu hari nanti.

Dari beberapa pengarang, saya suka Noah Yuval Harari. Salah satu bukunya adalah Sapiens. Bercerita tentang sejarah manusia. Dari masa berburu, bercocok tanam hingga saat ini.

Kelebihan Harari adalah pendongeng ulung. Gaya mendongengnya lebih mahir ketimbang sejarawan lain. Misal Jared Diamond.

Manusia pernah pada fase berburu dan mengumpul. Mereka berburu hewan disuatu tempat. Jika habis, mereka pindah. Begitu seterusnya mengikuti kemana gerombolan binatang buruan pergi.

Fase selanjutnya adalah bercocok tanam. Bertani. Mereka menanam gandum. Ditungguin sampai siap tuai. Setelah panen, sapiens menanam kembali di tempat yang sama. Mereka tak lagi pergi kemana-mana. Menetap.

Sama seperti kisah sapiens. Cara belajar manusia modern juga mirip. Fase mahasiswa adalah berburu- mengumpul. Berburu pengetahuan, pengalaman, jaringan. Lalu mengumpulkannya dalam lumbung ingatan.

Di fase ini kisah berburu ilmu diceritakan ulang di meja diskusi. Di status media sosial. Atau di ruang kelas. Mungkin sapiens purba pernah melakukan hal yang sama ribuan tahun lalu. Misal mendongeng keseruan berburu babi. Di mulut gua sambil menikmati senja.

Menjelang pasca kampus, mahasiswa bersiap menginjak fase bercocok tanam. Bertani. Parameternya bukan lagi kisah heroik berburu ilmu. Tapi hasil konkrit.

Sama seperti bertani. Sawah yang bagus adalah yang bisa menghasilkan berton-ton gabah. Bukan kisah-kisah kesuburan tanahnya.

Kalau tau ilmu bisnis. Maka tuntutannya punya bisnis yang menghasilkan banyak wang. Kalau punya ilmu menulis, dituntut menghasilkan karya tulis bagus.

Begitulah di fase bercocok tanam. Kemampuan utamanyaharus bisa mengkonversi pengetahuan menjadi hasil konkrit. Harus punya ilmu untuk menjalankan ilmu kalau kata teman saya.

--

--

--

Internet Marketer

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Aef Setiawan

Aef Setiawan

Internet Marketer

More from Medium

Microsoft bought Blizzard with 436.4

Candidates Groom Election

Kagame’s Excessive Thirst for Borrowing Has Pushed Rwanda’s Debt to US$7.1Billion