Begini Cara Mendatangkan Calon Pembeli Untuk Produk Kamu

Tiga hari yang lalu saya iseng bikin voting di channel telegram. Topik yang paling banyak di vote adalah soal bagaimana mendatangkan banyak calon pembeli (leads) untuk produk yang kita jual.

Tapi sebelum mulai saya buat desclaimer dulu ya:

Tulisan ini hanya cocok buat kamu yang sudah mulai jualan. Jualannya gak harus banyak. Bisa satu atau dua sales saja. Kalau belum jualan, tulisan ini belum relevan.

Oke kita mulai ya.

Untuk mendatangkan leads, pahami satu persatu tahapannya.

Pertama, kenali dulu siapa calon costumer ideal.

Sekarang buka dulu data penjualan. Lihat siapa yang beli, berapa jumlah transaksi dan bagaimana proses pembelian itu terjadi. Data ini penting buat bikin profiling siapa costumer kamu.

Ibarat mancing nih, kamu harus tau dong jenis ikan apa aja yang dapet.

Cek usia dan latar belakang pembeli. Minimal tau usia dan latar belakangnya. Karena saya melakukan whatsapp marketing, saya bisa dengan mudah menebak usia dan latar belakang mereka cukup dari foto profilnya.

Jumlah transaksi yang dilakukan itu penting banget untuk profiling. Misal nih, dari 100 data pembeli, 70 orang nilai transaksinya rata-rata 250 ribuan dalam sekali belanja.

Artinya itu daya beli mereka dalam sekali belanja. Nah, dari data transaksi ini saya bisa menganalisa pekerjaan dan kemampuan ekonomi mereka. Nantinya bisa dijadikan harga jangkar untuk menawarkan produk baru.

Cek juga bagaimana terjadinya proses transaksi. Jika jualan di whatsapp, silahkan buka lagi history chat Anda. Data ini penting untuk melihat perilaku pembelian.

Misal jika 90 dari 100 data pembeli produk Anda adalah COD, maka gunakan sistem COD sebagai sistem pembayaran. Ada yang gak jadi beli karena ongkir kemahalan, tandanya profil Anda sangat peka pada ongkir.

Sampai sini, semoga Anda paham maksud saya ya.

Buat Profiling Calon Pembeli Sederhana

Kedua buat profiling calon pembeli Anda. Tidak ada format profiling yang baku. Pilih format Anda sendiri sesuai data yang Anda temukan.

Jika Anda masih bingung gimana bikin profiling, bisa jadi Anda belum membaca data konsumen Anda. Coba baca lagi history calon pembeli Anda. Buka lagi chat whatsappnya.

Saya lebih suka model storytelling.Begini format profiling konsumen yang saya gunakan:

Halo, perkenalan nama saya Ibu Eni, seorang pemeluk Islam yang taat.Pendidikan terakhir, SLTA. Usia saya 45 tahun saat ini. Pekerjaan saya adalah ibu rumah tangga dengan 3 orang anak. dengan suami karyawan swasta penghasilan per bulan 3–5 juta.

Saya tinggal di pulau Batam, Provinsi Riau Kepulauan. Saya sering belanja online untuk membeli kebutuhan fashion, alat dapur, atau kebutuhan Anak. Sekali belanja online, saya bisa habis sekitar 250 ribu rupiah dengan sistem pembayaran COD.

Anda bisa profiling dengan story telling seperti diatas atau dengan format check list. Buat format senyaman Anda saja. Semakin banyak data penjualan Anda semakin detail profilingnya.

Ibarat mau mancing nih, Anda jadi tahu jenis ikan apa yang menyambar umpan yang Anda lempar.

Temukan dimana calon pembeli Anda berkumpul

Dari profil yang sudah dibuat, Anda bisa mencari tahu dimana mereka berkumpul.

Misalnya, seorang ibu yang memiliki anak beranjak usia remaja bisa saja berkumpul di fans page tokoh parenting seperti Ayah Edy misalnya.

Jika Anda bingung dimana calon konsumen Anda berkumpul, Anda bisa menggunakan alat bernama Audience Insight.

Audience Insight Facebook

Saya mau jualan tas untuk perempuan. Usia ideal untuk calon pembeli saya, 30–45 tahun. Maka disitu muncul data dimana calon pembeli saya ngumpul.

Ternyata Ibu-ibu ngumpulnya di ada di IKEA. Ikea itu apasih? Ike itu toko furniture besar. Jadi saya dapat insight nih, ternyata ibu-ibu suka stalking furniture juga.

Jika saya klik, IKEA itu adalah fans page facebook.

Lihat nih, ada 30 juta orang yang ikutin akun ini. Artinya ada 30 juta orang berpotensi beli.

Lho tapikan ini orang yang tertarik sama furniture, saya kan jualan tas?

Eits, jangan salah. Bioskop jualan pop corn tetap laris, meskipun niat semua orang datang ke bioskop buat nonton film.

Sekarang Anda sudah tahu jenis ikan yang Anda pancing. Sudah tahu juga dimana mereka berkumpul.

Selanjut?

Mulai Siapkan Alat Pancing

Sudah ketemu nih dimana calon costumer ngumpul, selanjutnya kamu menyiapkan alat pancing. Ingat ya, alat pancing itu cuma analogi. Dan calon konsumen Anda itu manusia sungguhan bukan ikan :)

Alat pancing itu maksudnya alat marketing. Ada banyak alat yang bisa Anda gunakan. Bisa pakai whatsapp marketing atau Facebook marketing, atau alat lainnya. Suka-suka Anda saja atau bisanya yang mana.

Disini saya menggunakan facebook ads sebagai alat pancing.

Disitu saya target IKEA di bagian targetting. Jadi, saya menarget orang yang menyukai fanspage IKEA atau orang yang mirip dengan mereka. Jumlahnya ada 23 juta orang.

Disitu juga terlihat perkiraan jumlah conversion yaitu 50–145 orang dalam sehari. Jadi facebook memperkirakan akan ada 50–145 orang baru yang datang untuk menanyakan produk yang Anda jual.

Artinya ada 50–145 Ikan yang berpotensi mematuk umpan yang saya lemparkan.

Apakah selesai sampai disini? Belum.

Sekarang, Siapkan Umpannya.

Beda ikan, beda umpan. Jadi pastikan Anda kenal dulu ikan apa yang akan Anda pancing. Misal profil costumer Anda sangat keberatan dengan harga ongkir.

Maka Anda bisa berikan diskon ongkir atau bahkan free ongkir. Ini akan menarik target market Anda.

Jika umpan yang Anda gunakan pas, merekapun akan berdatangan. Lalu Anda tinggal mengail mereka satu per satu.

Internet Marketer

Internet Marketer