Adaptasi atau Mati: Alasan Kenapa Memulai Facebook Marketing itu Penting

Saya pernah mengadakan telecomference Internasional di Jakarta dua tahun lalu. Pembicaranya seorang social entrepreneur dari Belgia. Bersama Mohit Dave, teman India, kami melakukan gladi resik berulangkali menggunakan Skype.

Skype agak ribet. Anda harus punya akun dulu sebelum bisa masuk. Jika lupa pasword, Anda harus membuatnya ulang. Bagi orang yang sudah tua, kadang gak cuma pasword yang lupa. Tapi emailnya.

Ketika semua negara memberlakukan social distancing di masa pandemi, aplikasi Zoom menemukan momentum. Jumlah penggunanya meledak. Dari 10 juta di bulan Desember jadi lebih dari 200 juta saat ini.

Untuk mengikuti video call di zoom, Anda cukup mengklik link, mengetikan nama dan kode tertentu. Simpel. Tidak perlu bikin akun dulu seperti Skype. Tapi kabar terbaru Skype berkolaborasi dengan Microsoft. Membuat aplikasi yang sama simpelnya dengan Zoom, Metnow.

Skype mau tak mau harus beradaptasi kalau mau tetap eksis. Dan, kemampuan beradaptasi adalah skill yang relevan sepanjang zaman.

The Most Valuable Skill: Adaptif

Adaptasi adalah kemampuan yang bersifat timeless. Terus relevan sepanjang waktu. Hewan-hewan purba seperti Dinosaurus punah bukan karena mereka lemah, tapi tidak mampu beradaptasi.

Pandemi Covid-19 benar-benar menguji kemampuan adaptasi Anda. Jika hari ini terbiasa dengan bisnis offline, memasarkan produk secara konvensional, akan sangat sulit. Situasi akan memaksa Anda belajar marketing secara online.

Saya tinggal di belakang kampus. Sebelum masa pandemi banyak sekali orang berlalu lalang. Banyak orang mengandalkan keramaian itu untuk bisnisnya. Tapi, sekarang sepi..

Bukan berarti orang yang biasa berlalu lalang itu hilang. Mereka hanya pindah tempat. Yaitu ke dunia online. Kamu bisa menemui mereka disana, dengan cara jualan di facebook, atau jualan di instagram.

Tapi bagaimana memulainya? Kan, berubah gak gampang.

Caranya, berubah sedikit demi sedikit

Melakukan perubahan itu sulit. Apalagi melakukan perubahan besar. Makanya perubahan revolusioner itu seringkali cuma enak didengar, tapi sering gagal diterapkan.

Kenapa bisa begitu?

Karena manusia itu terdiri dari kebiasaan kecil yang terbentuk sejak lama. Cara mengubahnya harus dari hal-hal sederhana dan kecil dahulu. Jika kamu terbiasa memasarkan produk dengan model canvasing, lalu tiba-tiba menjual dengan menggunakan website, kamu pasti bakal kesulitan.

Karena marketing online dan offline itu punya seperangkat kebiasaan kerja yang berbeda. Marketing online dengan bikin website itu sudah benar, banyak orang diluar sana yang berhasil.

Namun, masalahnya sering kali masih pakai kebiasaan lama. Misal sebar-sebar link di grup WhatsApp dan sosmed pribadi. Atau mengontak teman lama Anda untuk melihat website dan membeli produknya.

Padahal jualan di internet itu butuh cara kerja baru yang secara teknis berbeda dengan pemasaran offline.

Lalu darimana kita mulai?

Belajar jualan di Facebook Marketplace saja dulu.

Karena fitur Facebook Marketplace lebih mudah untuk untuk mulai bisnis online.

Cara jualan di Facebook marketplace itu tidak serumit kamu jualan di Google. Setidaknya kamu harus bisa bisa bikin landing page, membuat copywriting, dan Search Engine Optimation (SEO). Terlalu rumit buat yang belum biasa.

Sementara jualan di facebook marketplace itu sederhana. Dan hasilnya bisa didapat dengan cepat. Sehingga Anda bisa mendapat banyak kemenangan kecil.

Saya sudah sharing pengalaman saya jualan di Facebook Marketplace dan dapat omzet 250 juta disini.

Jika Anda ingin mulai belajar jualan online, dan memulainya dengan belajar jualan di Facebook marketplace secara serius bisa belajar disini

--

--

Internet Marketer

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store